
Dengan kelengkapan organ otaknya melalui fungsi
berpikir, manusia mengeksploitasi lingkungannya. Namun proses eksploitasi ini
seringkali melampaui batas, sehingga melampaui keseimbangan lingkungan.
Ternyata manusia tidak cukup hanya berpikir, tetapi harus dilengkapi dengan
berperasaan. Akibat hanya berpikir dengan motif ekonomi, maka ratusan juta
hektar hutan mengalami kehancuran, seluruh flora dan faunanya punah tidak
bersisa. Ada manusia yang mengeksploitasi hutan secara tradisional ada juga
yang modern dengan menggunakan beragam alat berat. Namun hasilnya berujung pada
kerusakan lingkungan. Dengan demikian dalam berinteraksi dengan lingkungan
perlu motif yang tidak sekedar ekonomi, tetapi motif kesejahteraan dan
keberkahan.
Di dalam motif ekonomi hanya ada upaya pencarian
keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan.
Sebaliknya dengan motif kesejahteraan dan keberkahan maka aspek kelestarian
lingkungan menjadi prioritas. Sebenarnya
langkah eksploitasi lingkungan syah-sayah saja asalkan dilakukan dengan
prinsip kehati-hatian dan keseinambungan. Manusia diberi otoritas untuk
mengelola Planet Bumi, terserah mau diapakan, dilestarikan atau dihancurkan.
Dalam hal inilah pentingnya berperasaan selain berpikir. Dengan istilah lain,
silahkan kelola dan eksploitasi lingkungan, asalkan dengan hati.
Menurut Soerjani dkk (2006), pengertian tentang
lingkungan hidup manusia sering kali disebut lingkungan hidup atau lebih
singkat lingkungan saja, sebenarnya berakar dan berarti penerapan (aplikasi)
dari ekologi dan kosmologi. Lingkungan hidup merupakan penelahaan terhadap
sikap dan perilaku manusia, dengan segenap tanggung jawab dan kewajiban maupun
haknya untuk mencermati lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya. Sikap dan
perilaku ini sangat diperlukan untuk memungkinkan kelangsungan peri kehidupan
secara keseluruhan, dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
Menurut UU No. 23 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup, lingkungan hidup adalah sistem kehidupan yang
merupakan kesatuan ruang dengan segenap pengada (entity) baik pengada
ragawi abiotik atau benda (materi), maupun pengada insani, biotik
atau mahluk hidup termasuk manusia
dengan perilakunya, keadaan (tatanan Alam baca kosmologi),
daya (peluang, tantangan dan harapan) yang mempengaruhi kelangsungan
peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta kesejahteraan
mahluk hidup lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar